Kamis, 17 November 2011

Duka Dibalik Hujan

Siang itu cuaca tak seperti biasanya. Hujan turun begitu derasnya. Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Bagiku hujan juga tak menghilangan sebuah keindahan. Aku selalu mengibaratkan hujan dengan air mata. Akan ada sebuah pelangi setelah hujan begitupun juga dengan air mata, akan ada sebuah senyuman yang menutupi seribu air mata.


Aku yang sedang duduk didalam taksi tiba-tiba saja tersenyum melihat hujan yang turun. Rintik-rintiknya yang begitu indah, seperti rintik air mataku saat ini. Aku memang sedang tidak menangis saat ini, tapi tiba-tiba saja aku teringat dengannya, Kevin Chandra dia teman lamaku dulu saat duduk dikelas 2 SMP.
Namaku Shasa Aurelia, kini aku duduk dibangku kelas 2 SMA.
Aku ingat sekali dulu saat pertama kali menyukainya dan mungkin dia cinta pertamaku, tapi bukan kekasih pertamaku. Dia juga orang pertama yang membuatku trauma akan cinta.
Yahh aku masih ingat sekali kejadian 3 tahun yang lalu, ketika aku mengirimnya surat yang berisi tentang perasaanku padanya. Saat itu sesungguhnya aku menahan rasa malu yang amat dalam.
Pasti setiap orang berfikir bagaimana  mungkin seorang wanita berani mengungkapkan perasaannya duluan.
Tapi aku berbeda, bagiku tidak ada yang salah dengan hal itu. Setiap orang berhak untuk mengungkapkan perasaannya pada orang yang ia sukai, meskipun nantinya ia harus mendapatkan jawaban terburuk sekalipun.Saat itu aku tak pernah menyangka apa yang dilakukan Kevin sangat membuatku kecewa dan sakit hati. Iya membaca suratku didepan kelas, didepan teman-teman kelas kami.
Sungguh itu hal yang paling memalukan dalam hidupku. Seakan ia berusaha memainkan perasaanku dan menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya lelaki yang paling dikagumi.
Hahhh sungguh aku sangat muak dengannya saat itu. Dan yang paling mengecewakanku yaitu setelah ia membaca suratku itu, ia kemudian menghampiriku dan merobeknya didepan mukaku.
Tidak hanya itu ia juga berkata “ Ini hal yang tidak penting “
Sungguh aku tidak bisa berkata-kata saat itu, yang aku ingat, aku hanya menangis dan kemudian berlari keluar kelas menahan perih dan kesal yang kurasa.
Sejak saat itu, aku tak pernah lagi berbicara dan ingin bertemu lagi dengan Kevin.
Karena ketidaknyamananku dengannya, aku kemudian memutuskan untuk pindah sekolah mengikuti Ayahku yang pindah tugas ke Bangka.
Aku benar-benar sudah tidak ingin mengingat tentangnya lagi. Berusaha menutup hati dan pikiranku tentangnya.
Tak ada lagi Kevin Chandra dipikiranku bahkan dihatiku.
Bunyi hapeku tiba-tiba saja menyadarkanku dari lamunanku. Segera aku membuka hapeku dan melihat sms masuk. Sha kamu dimana?  Alvin Aprilo.
Dialah kekasih pertamaku, kami sudah 1 tahun jadian, setelah 2 tahun aku menutup hatiku karena sakit hati akibat perlakuan Kevin dulu padaku.
Alvin cowok yang baik, ia sangat menerima keadaanku. Bahkan ia juga tau kisahku dengan Kevin. Aku selalu mengatakan padanya kalau aku sangat membenci Kevin. Tapi ia malah mengatakan padaku bahwa Kevin pasti punya alasan mengapa ia melakukan itu padamu. Alvin juga pernah bilang padaku agar aku jangan terlalu mencintainya. Aku pernah bertanya padanya mengapa? Namun ia tidak menjawabnya dan malah berkata, jangan terlalu membenci seseorang karena suatu saat itu bisa menjadi cinta, dan jangan terlalu mencintai seseorang karena suatu saat itu bisa menjadi benci.
Aku berusaha memahami perkataaan itu, dan mengingat betapa cintanya aku dulu pada Kevin yang kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. Apa ini maksud perkataan Alvin, aku juga tak mengerti yang ku tahu, kini aku mencintainya dan sangat mencintainya. Aku buru-buru membalas sms Alvin.
Tak lama setelah itu, aku turun dari taksi dan menuju pulang kerumah.
Ketika sampai didepan rumah, aku melihat ada beberapa orang yang tengah berdiri dihalaman rumahku.
Aku kemudian menghampiri mereka, tiba-tiba saja aku terkaget ternyata mereka sahabat-sahabat SMPku : Shilla, Jojo, Rafa, dan Andre. Shasaaaaaaaa “teriak mereka padaku”.
 Aku terkejut dan kemudian memeluk mereka.
Sha, kamu kok ga pernah main-main lagi ke Jakarta? Udah sombong ya sekarang ‘ujar Shilla padaku.
Bukan gitu Shill aku kan baru pindah jadi sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Oh ya Shaa, kok waktu SMP kamu pindah secara mendadak sih? Kita sedih tau pisah sama kamu ujar Rafa padaku.
Maaf ya waktu itu aku harus ngikut papaku pindah tugas “ungkapku mencari alasan yang tepat”.
Shaaa ga usah nutupin kekecewaan kamu deh, kita tau kok kamu pindah karena sakit hati akibat perlakuan Kevin padamu ‘ujar Andre yang kini angkat bicara.
Hmm enggak ko Ndre, jujur dulu aku memang sakit hati karena Kevin, tapi ada dan tidak adanya peristiwa penolakan itu, tetap saja akan ada perpisahan.Aku tetap saja akan pindah sekolah untuk mengikuti papaku “jawabku”.
Shaa, tau gak? waktu Kevin dengar kamu pindah dia sedih loh.Bahkan dia juga sering melamun di sekolah setelah kepindahanmu “ujar Jojo
Iyaa Shaa, setelah kamu pindah Kevin pernah ngutarain perasaannya di Mading Sekolah. Dia nulis surat tentang kekangenannya denganmu. Bahkan disitu dia nulis betapa cintanya dia sama kamu. Dan setelah dia menulis surat itu, keesokan harinya dia pindah ke Aussie “ujar Shilla padaku.
Udahlah Shill, gak usah dibahas lagi. Aku sudah tak ingin mendengar apapun tentangnya. Kini aku sudah punya seseorang yang jauh lebih baik dari Kevin “tukasku.
Melihat wajahku yang sudah tidak nyaman dengan pembicaraan itu, akhirnya teman-temankupun pamit pulang.
Sore itu, aku duduk dibawah pohon mangga depan rumahku. Aku terus teringat pada ucapan Shilla tadi siang padaku. Sejumlah pertanyaan tertumpuk dipikiranku.
Apa benar dulu Kevin mencintaiku??
Kenapa dia baru mengakuinya setelah aku pindah?
Terus kenapa saat itu dia ngerobek suratku?
Apa maksud semua ini?
Jujur aku masih ada sedikit perasaan dengan Kevin. Bagaimanapun dia adalah cinta pertamaku.
Dia yang membuatku bisa merasakan apa itu jatuh cinta dan cinta pertama.
Tapi aku tidak mungkin melepaskan Alvin yang begitu baik padaku. Kekasih yang sangat sempurna untukku. Kekasih yang selalu mengerti dan memahamiku.
Aku bingung, apa ini yang dinamakan cinta dua hati?? “ujarku dalam hati”.
Tiba-tiba saja aku terkaget dengan sentuhan lembut seseorang dibahuku.
Alvinnnnnn kok bisa disini “tanyaku”.
Aku sudah dari tadi berdiri disana dan berteriak memanggilmu, tapi tidak kamu hiraukan dan malah asyik melamun. Ngelamunin siapa sih? Aku yaa hayooo “goda Alvin padaku”.
Idihhhh apasih enggak tau “ujarku padanya”.
Kami asyik mengoborol sambil melepaskan candaan sesekali.
Bagiku Alvin pacar yang baik. Dia tau batasa-batasan dalam berhubungan. Dia bisa jadi teman ngobrol yang baik, motivator yang baik, bahkan sesekali dia juga bisa menjadi sahabat yang baik untukku.
Oleh sebab itu aku selalu nyaman bersamanya.
Sebelum pulang, Alvin meminjam gitar tetanggaku yang sedang asyik bernyanyi di teras rumahnya.
Alvin kemudian menghampiriku lagi dan menyanyikan sebuah lagu untukku.
Kau terindah kan selalu terindah , aku bisa apa tuk memilikimu
Kau terindah kan selalu terindah harus bagaimanaku mengungkapkannya.
 Kau pemilik hatiku… “iyaa lalu menghampiriku dan memelukku dengan begitu erat.
Aku terkaget dan menatapnya.
Ada sedikit rintihan air mata yang kulihat dipelupuk matanya.
Aku tak mampu melihat itu.
Alvin menangis, ia menangis dihadapanku.
Dengan terisak Alvin lalu berucap “ aku tak ingin kehilanganmu Shasaaaaa. aku mencintaimu dengan setulus hatiku. “ujarnya padaku.
Kini giliranku yang memeluknya.Aku terharu mendengarkan ucapan itu.Ucapan yang tak pernah kudengar dari seorang Alvin Aprilio. Dari seorang laki-laki yang sangat tidak romantis menurutku.
Aku tidak akan meninggalkanmu Alvinnnn, karena cuma kau cinta dalam hidupku.
Alvin kemudian berpamitan pada kedua orang tuaku didalam rumah dan kemudian berpamitan denganku.
Hati- hati dijalan Vin, jangan ngebut ya “ujarku padanya ”.
Dan kemudian iya membalasnya dengan anggukan dan senyumannya.

Keesokan paginya, aku melihat Alvin sedang sibuk didepan ruang guru. Aku kemudian menghampirinya, lagi sibuk ya? “tanyaku padanya”
Iyaaa lalu menoleh kearahku, iyaaa nih lagi mau ngajuin proposal ke Bu Kepsek “jawabnya padaku”
Jawabannya begitu datar kepadaku. Sejujurnya aku sedikit sedih mendengar jawaban itu. Tak ada sedikitpun kata-kata manis untukku ataupun cuma sekedar menyapaku saja.
Yah aku memakluminya, aku dan Alvin memang memutuskan untuk tidak terlalu menunjukkan hubungan kami didepan teman-teman. Apalagi Alvin adalah Ketua OSIS, dimana iya harus memberi contoh yang baik pada seluruh warga sekolah.
Kalau mengingat kejadian kemaren sore, aku benar-benar tidak percaya kalo kemaren itu adalah Alvin Apilio.
Belll sekolahpun berbunyi, aku kemudian buru-buru masuk kelas karena jam pertama adalah jam Bu Nina guru killer disekolah kami.
Ketika jam pelajaran dimulai, tiba-tiba saja Bu Nanda, guru TU memperkenalkan kami seorang siswa baru.Kami sekelas hanya memandangnya sekilas dan kembali dengan kesibukan kami mengerjakan tugas dari Bu Nina. Siswa baru itu kemudian duduk dibelakangku. Sekilas aku memandangnya seperti seseorang yang aku kenal tapi tak aku hiraukan. Sepulang sekolah aku menunggu Alvin didepan kelasnya. Kemudian murid baru itu menghampiriku dan bertanya padaku “namamu Shasaa ya? ujarnya padaku.
Aku tak meghiraukan omongannya, dan kemudian berlari menuju kearah Alvin yang tengah berdiri melambaikan tangannya ke arahku.
Itu siapa Shaa “tanya Alvin padaku”.
Bukan siapa-siapa, dia cuma anak baru dikelasku “jawabku”.
Ditengah jalan, Alvin menanyakan sebuah pertanyaan yang membuatku kaget.
Shaaaa, cowok tadi itu Kevin yaa??
Hahhh Kevin dari mana?  aku gak tau Vin, kenalan aja belum kok “ujaku”.
Kok jadi bawa-bawa Kevin sih kamu? “ujarku pada Alvin agak kesal”
Aku gak tau kenapa Shaa, tapi akhir-akhir ini aku merasa akan sangat jauh dari kamu “ujarnya padaku yang membuatku semakin bingung.
Apasih Alvin, ngomongnya gitu ya sekarang. Kenapa udah bosen sama aku “tanyaku marah”.
Enggak sayang, enggak gitu maksud aku, maaf yah kalo kamu salah paham “tukasnya”.
Kamipun melanjutkan perjalanan pulang
Dirumah aku terus teringat dengan ucapan Alvin padaku.
Apa benar cowok itu Kevin, tapi masa iyaa? Terus kenapa cowok itu bisa tau namaku.
Sebuah tanda tanya besar terbesit dipikiranku. Tiba-tiba saja sebuah sms masuk dari nomor baru.
Hai Shasaa, aku Kevin Chandra
Masih ingatkah kau denganku.
Aku terkaget membaca pesan masuk itu.
Kevin??? Dari mana dia tahu nomorku
Aku kemudian membalasnya
Dan yang jauh membutku terkaget yaitu sebuah sms darinya yang isinya.
Aku cowok yang tadi siang menanyakan namamu.
Maaf ya tadi sudah mengganggumu.

Keesokan paginya, aku buru-buru menuju kelas untuk menemui Kevin, aku penasaran dengan cerita dari Shilla minggu lalu, dan ingin aku tanyakan langsung padanya.
Kevinnnnnn “teriakku pada cowok baru itu.
Heii Shasaaa, “jawabnya padaku disertaai dengan senyuman khasnya yang tidak berubah sejak SMP.
Kenapa bisa disini” tanyaku padanya”.
Hehehe aku ingin menemuimu, dan menyelesaikan masalah kita yang dulu belum terselesaikan. Aku mendapat informasi dari Shilla kalau kamu sekolah disini “jawabnya”.
Entah kenapa aku bahagia mendengar penjelasannya. Aku bahagia karena Kevin ternyata mencariku selama ini.
Tanpa sadar, aku kemudian memeluk Kevin dan menangis dipelukannya.
Aku kecewa sama kamu, Kev. Aku benci kamu yang dulu yang membuat hatiku hancur.                
Aku benci kamu ! lelaki yang membuatku trauma dengan cinta.
Maaafkan aku Shaaa, aku mencintaimu, dari dulu sampai sekarang. Maafkan aku karena dulu telah mengecewakanku. Maafkan keegoisanku dulu.
Tiba-tiba saja ada yang menarik tubuhku dan kemudian menghajar Kevin.
Alvin terus memukul Kevin hingga babak belur.
Aku kemudian menarik Alvin dan membentaknya.
Alvinnnn, jangan pernah kasar sama Kevin.
Aku gak suka Alvin yang pemarah. Alvin yang aku kenal bukan lelaki yang suka berkelahi “bentakku padanya”.
Iyaa lalu berkata padaku, dan Shasaa yang aku kenal bukan Shashaa yang suka membentak. Bukan Shasaa yang bisa berpelukkan dengan laki-laki lain selain akuuuu “ujarnya padaku.
Aku kecewa sama kamu Shaaa, kamu bukan Shashaa yang aku kenal.
Shashaa yang aku kenal bukan Shashaa yang suka berbohong yang bilang kalau iya tidak kenal dengan orang itu tapi malah berpelukkan dengannya.
Aku terkeget dengan ucapan itu, aku melihat rintihan air mata Alvin lagi.
Aku mendekati Alvin berniat tuk menjelaskan padanya, tapi iyaa keluar dari kelasku sambil menunjuk Kevin dengan jari telunjuknya.
Aku sedih dan kemudian menangis. Aku tak ingin Alvin marah padaku. Aku menyadari kesalahanku yang tiba-tiba saja memeluk Kevin. Aku kecewa dengan perlakuanku pada Alvin.
Alvin tak salah, aku yang salah.

Sepulang sekolah aku berniat menjelaskan semuanya pada Alvin.
Namun apa yang kulihat, tiba-tiba saja air mataku menetes dipipiku, aku menangis melihat lelaki yang aku cintai sedang berduaan dengan Dina, Wakil OSISnya. Alvin memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu untuk Dina.
Aku kemudian menghampiri Alvin, dan berusaha menahan air mataku yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Sebelum aku berdiri tepat dihadapan Alvin, Dia lalu berdiri dan mengatakan padaku.
Maafkan aku Shasaa, aku tidak sepantasnya membentakmu. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Kini aku biarkan kau untuk memilih, carilah cinta sejatimu. Aku rela melepasmu jika itu bisa membuatmu bahagia tanpa air mata yang kini tengah kau teteskan dihadapanku.
Aku berlari dan meninggalkannya dengan Dina.
Air mataku semakin deras ditambah lagi dengan rintik hujan yang semakin deras. Aku benci hujan kali ini, aku benciiiii. Aku benci Alvinnnnnnnnnnn “teriakku melawan derasnya hujan yang kini mulai membasahi seluruh tubuhku.
Keesokan paginya aku tidak masuk sekolah. Badanku panas akibat hujan kemarin. Aku berusaha membuka handphoneku. Namun tidak ada sms masuk sedikitpun dari Alvin. Biasanya Alvin selalu mengirimiku pesan “Get Well Really Soon Shasaakuuuuu :* “
Tapi itu semua hanya tinggal kenangan. Setahun hubunganku dengan Alvin rusak karena kebodohanku yang tidak mampu memilih cinta sejatiku.
Esoknya aku meaksakan untuk masuk sekolah meskipun aku masih dalam kondisi yang sangat drop.
Aku berusaha menahan pusing dikepalaku dan berjalan menyusuri halaman sekolah. Sepiii tidak seperti kemarin-kemarin. Aku tidak melihat wajah Alvin yang biasanya sudah berdiri didepan kelasku menabur senyumannya untukku.
Tiba-tiba saja Dina menghampiriku. Sha maafin aku, waktu itu kamu salah paham. Alvin sedang tidak berduaan denganku, dia hanya sedang curhat denganku tentang kejadian yang menimpa kalian berdua.
Alvin sangat mencintaimu Shaaa. Datanglah dan jenguklah dia. Dia kecelakaan kemarin setelah bertengkar hebat dengamu. Dia sekarang dirawat di R.S Medika.
Aku yang mendengar penjelasan Dina tersentak kagetttt dan kemudian berlari menuju parkiran sekolah mengambil motorku.
Sesampainya di Rumah Sakit aku berlari disekitar halaman rumah sakit, mencoba mencari-cari dimana ruangan Alvin, tak tapi kutemui. Bodohnya aku, aku tak menanyai nama ruangan Alvin pada Dina tadi pagi. Tiba-tiba saja ditengah jalan, aku bertemu dengan mama Alvin. Tanteeeeee “teriakku pada beliau”.
Ia berbalik kearahku. Shasaaaa “ujarnya padaku dan kemudin memelukku erat”.
Kenapa baru datang sekarang?? “tanyanya padaku”.
Iyaa tante, aku juga baru dengar kabar dari temanku tadi pagi.
Kamu ada masalah yah dengan Alvin “tany beliau padaku”.
Enggak ko tan,hubungan  kami baik-baik saja kok “ujarku mencoba membuatnya tenang”.
Kemaren tante ingin menghubungimu, namun Alvin tidak mengizinkan, dia malah bilang kalau kamu sedang mencari cinta sejatimu.Ada apa sebenarnya sayang “ujar beliau padaku dengan cemas”.
Aku sedikit kaget, mengapa Alvin mengatakan itu pada ibunya. Apa ia benar-benar sudah membenciku.
Aku buru-buru masuk dan menghampirinya diruang rawat.
Apa yang kudapati, seorang lelaki yang berwajah sangat pucat, terbalut kain putih dikepalanya yang masih ada sedikit darah, sedang berbaring lemah diatas tempat tidur.
Aku menghampirinya, namun ia sedang tertidur lelap diranjangnya. Terlihat wajah yang berbeda dari sebelumnya. Mukanya kini jauh lebih murung. Aku melihat sebuah laptop kesayangan berada disampingnya. Aku mencoba membukanya dengan pelan, berusaha melihat apa yang dia lakukan dengan laptop itu. Aku terkaget !  ada videoku didalamnya. Video saat pentas seni bulan lalu. Video saat aku tengah bernyanyi sambil memainkan gitar. Aku menyanyikan lagu Marcel yang berjudul Takkan Terganti, lagu itu kupersembahkan untuk Alvin yang kebetulan tengah berulang tahun saat itu.
Tapi bagaimana bisa Alvin menyimpan video ini “pikirku dalam hati”
Tiba-tiba saja Alvin terbangun dari tidurnya.
Shasaaa, sedang apa kmu disini “tanyanya padaku dengan suaru yang begitu lemas”.
Aku berusaha menahan air mataku, menahan kesedihanku melihat sesosok kekasihku yang tengah terbaring lemah.
Aku sedang menungguu cinta sejatiku yang sedang terbaring lemah dihadapanku”ujarku padanya dan kemudian memeluknya”.
Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tak bisa menjadi kekasih yang terbaik untukmu. Aku sudah temukan cinta sejatiku yaitu kau. Aku tak mampu kehilanganmu Alvinnnnn
Alvinnnn hanya terisak dan memelukku dengan erat.

Kini Alvin sudah diizinkan pulang oleh dokter.
Ketika kami tengah berjalan keluar dari Rumah Sakit, terlihat seorang laki-laki tengah menghampiri kami.
Kevinnnn “ujar Alvin padaku”.
Haiii, maaf mengganggu, aku kesini mau bicara dengan Shashaaa “ujar Kevin”.
Mau bicara apa? “ujarku tegas”.
Aku melihat kecemasan diwajah Alvin, aku tau Alvin tengah khawatir. Ia pasti mengira aku akan meninggalkannya.
Aku ingin bicara berdua denganmu saja Shaa “ujar Kevin padaku”.
Katakan saja Kev, aku tidak bisa meninggalkan Alvin sendiri. Toh Alvin juga kekasihku, jadi dia berhak tau semua masalahku “ujarku pada Kevin”.
Baiklah tak ada yang perlu kita bicarakan lagi Shasaa. Aku sudah mendapatkan semua jawabannya.
Terima kasih karena kau masih ingin mengingatku sampai sekarang. Terima kasih atas pengalaman ini Sha, aku tak akan lagi menyianyiakan cinta sejatiku.
Aku sadar ini semua kesalahanku, aku yang sudah mengecewakanmu dulu. Bagaimanapun aku harus bisa menerima kenyataan ini. Bahwa aku tak akan pernah bisa mendapatkanmu lagi.
Itu kata-kata terakhir dari Kevin dan kemudian berlari meninggalkan kami.
Alvinnn menatapku dan berkata “jangan seperti ini Shaa, kasihan Kevin. Penjelasan itu terlalu menyakitkannya.
Sudahlah Vinn biarkan dia menerima kenyataan ini, biarkan dia belajar dari kesalahannya hari ini“ujarku pada Alvin dan mengajaknya pulang”.
Ditengah jalan hujan turun begitu deras, aku dan Alvin akhirnya memutuskan untuk berteduh.
Maaf pak disana sedang ada apa ya? Kok orang-orang berkerumun? “tanya Alvin pada seorang pedagang asongan.
Oh itu mas ada kecelakaan. Seorang pemuda menabrak pembatas jalan.
Aku dan Alvin terkaget mendengar penjelasan bapak itu.
Karena penasaran, kami berlari menuju tempat kejadian.
Tiba-tiba saja badanku terasa lemas meilihat pemuda itu. Itu Kevinnn yang tengah berlumuran darah.
Aku tak mampu melihat darah yang begitu banyak ditubuhnya.
Alvinnn melihat kecemasanku dan kemudian memelukku.
Kevinn kemudian menatap kami berdua dan memanggilku.
Aku berusaha menghampirinya dan memegang erat tangannya yang berlumuran darah.
Maafkan aku Shasaa, jangan benci aku.
Alvinnnn jaga Shasaa , kau lelaki yang baik.
Shasaa lebih pantas bersamamu “ujar Kevin dengan terbata-bata dan terus menggenggam erat tanganku hingga nafas terakhirnya.



thx for aulia :) Cerpen yang mengharukan ->  http://auliadewi-senyumanpelangi.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar